Cakrawala #4(Hari Manis 1)

 

 HARI MANIS

 

Dari kemarin ketika kamu mengatakan ia, aku masih belum sadar apakah ini masih nyata atau hanya mimpi

Bukan aku puitis tapi ini yang aku rasakan .

Sampai malam ku berubah menjadi sedikit lambat karna dunia mu masuk ke rumah ku, rasanya pagi begitu lama apakah pagi juga ulah mu? atau malu bertemu dengan mu ?


Ukiran yang kamu pahat di pikiran ku begitu cantik, sampai aku lupa dengan langit hari ini dan senyum yang kamu bagikan setiap pagi membuat mataku tak ingin beralih serta marah yang kamu berikan itu membuatku juga ingin selalu di dunia mu . 

Rasanya ingin aku tanyakan pada pelukan pertama kita tentang ruang yang membuat kita menaruh janji dan ikat. 

Ingat? bunga yang aku berikan waktu itu, dia bilang semoga kita menua bersama.

Serta ku amin-kan doa tentang kita, tentang ruang yang kita buat agar selalu terlindung dari sisi buruk dunia. 

Sekarang kamu adalah rumah ku bukan lagi rumah yang berusaha menutup rapat pintunya tapi rumah kita kali ini bertuju ke arah cinta yang saling menyapa diperlintasan jalan. 

Banyak sekali harapan yang panjang untuk aku, kamu dan rumah kita.

Dan aku benar-benar menggenggam perkataan kita, tentang kamu yang akan selalu disamping-ku dan tetang kita bertuju searah selamanya.

Aku benar-benar mengunci rumah kita, tentang rumah yang akan kita singgahi dan berusaha tidak akan roboh di ambil orang.

Mungkin, kita terlalu kecil untuk mengenal semua itu tapi kita tetap mencerna omongan dosa menjadi baik untuk kita.

Atau mungkin, mereka yang terlalu bodoh untuk menyapa kita dengan pandangan yang mereka punya. 

Ada pesan dari mereka yang tidak mempengaruhi apa-apa tentang kita. 

Ada salam dari tuhan menyadarkan bahwa aku dan kamu hanyalah sementara . 


-Suara dari lelaki


Komentar

Postingan Populer